APA SAJA PRINSIP-PRINSIP ETOS KERJA DALAM ISLAM ?

 


Setidaknya ada tiga prinsip utama yang dipakai Islam terkait dengan etos kerja. 

Pertama, prinsip ganjaran. Setiap pekerjaan yang dilakukan manusia akan mendapat ganjaran dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat kelak. Maka  pekerjaan tidak hanya urusan yang selesai di dunia saja. Tapi punya mata rantainya hingga ke kehidupan akhirat. Prinsip ini akan melahirkan apa yang disebut dengan kesadaran dan tanggungjawab. 

Dengan meyakini bahwa setiap pekerjaan yang kita laukuan di dunia ini,  akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat kelak maka diharapkan akan muncul kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam melakukan pekerjaan.  

Lebih lanjut Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ٣٩ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ٤٠  ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ ٤١

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An-Najm : 39 – 41)

Dengan demikian, apapun yang kita lakukan di dunia, pekerjaan apapun yang kita kerjakan di dunia ini akan ditampakkan di akhirat kelak. Oleh karena itu jangan sampai pekerjaan yang kita lakukan di dunia ini membuat kita lupa kepada Allah swt, membuat kita melanggar aturan Allah  tetapi lakukanlah suatu  pekerjaan itu penuh kesadaran dan  tanggungjawab. 


Kedua, prinsip kemudahan. Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan potensi, bakat, kecenderungan dan juga apa yang ia geluti dari waktu ke waktu hingga menjadi sebuah keahlian. Inilah yang dimaksud dengan firman AllahSubhanahu wa Ta’ala,

قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلٗا ٨٤

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (QS. Al-Isra : 84)

Prinsip ini  merupakan landasan untuk melahirkan apa yang disebut dengan kesadaran keahlian atau kesadaran professional. Artinya, setiap orang pada dasarnya memiliki bahan atau potensi di dalam diri yang membuat dia bisa bekerja dan menekuni profesi atau keahlian tertentu. Kesadaran professional itulah yang disebut dengan itqan dalam Islam. seseorang bekerja dengan keahlian yang maksimal dengan kualitas yang maksimal.


Ketiga, prinsip kemanfaatan. Kita didorong untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan sesama. Seperti yang dijelaskan RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam haditsnya,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ (رواه احمد, التبراني الدارقطني)

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Maka, pekerjaan yang memberi manfaat pada kehidupan ini, bagi banyak orang, tentu lebih bernilai dan berarti ketimbang pekerjaan yang hanya memberi manfaat kepada diri sendiri, atau malah yang tidak memberi manfaat, atau malah merugikan. 

Dapat kita lihat pada banyak sekali pembobotan yang diberikan Islam kepada berbagai pekerjaan. Bagaimana Islam memberi penghargaan kepada para suami yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Juga para istri yang mengelola berbagai beban rumah tangga. 

Atau guru yang mengajarkan ilmu dan mengubah orang-orang yang tidak berilmu menjadi berilmu.  Atau pengusaha sukses yang mengentaskan kemiskinan melalui sedekah yang memberdayakan. Semua itu ada pembobotannya. Keutamaan berbagai peran  tersebut  dalam kerangka umum disebut dengan “Sebaik-baik manusia  karena memberi manfaat  bagi manusia lainnya.”

Komentar